Meski Sudah Berusia 4 Tahun, Iritnya Mio GT Tetap Terjaga… Ajiibbb

Selamat pagi sobat.. Apa kabar? Hari kamis kemaren mimin cuti kerja karena ada keperluan mendadak ke sukabumi.. Ada dua opsi jalan yang bisa diambil, lewat bogor kota atau lewat cariu-cianjur.. Akhirnya di pilih lewat jalur cariu-cianjur. Biasanya kalau ke mana-mana mimin selalu pakai si jet wahid, kali ini coba pakai si Gagal Tunduh (Mio GT) motor kesayangan nyonyah.. Hehe.. Sekalian pengen tahu performa dan konsumsi BBM-nya jika dipakai riding jarak jauh sendirian. Gimana hasilnya? Cekidot..

Profil rider: TB 165cm, BB 60kg, tas gendong beratnya kira-kira 5kg..

Motor: Yamaha Mio GT, April 2014, standar ting-ting..

Metodenya yang digunakan adalah metode full to full..

Karena jalur keberangkatan dan jalur pulangnya berbeda, maka akan mimin bagi menjadi 2 sesi sob, yaitu keberangkatan dan pulangnya.. Hehe..

Sesi pertama:

Start dari jonggol jam8.00, mampir ke SPBU terdekat terlebih dahulu buat isi fulltank pertalite. Didapat 3,349 L atau sekitar Rp26.122, minta struknya dan bayar Rp26.000.. tumben nih petugasnya baik hati, biasanya disuruh bayar Rp26.500 atau bahkan Rp27.000.. Kemudian kita foto struknya beserta odometer awal yang tertera sekitar 17.147 KM.. Setelah semuanya selesai, meluncur ke arah cariu-cianjur.. Jalan yang dilalui cukup mulus karena sudah banyak yang di beton maupun di hotmix, tapi jangan terlena sob karena di beberapa titik masih hadir jebakan betmen yang membuat kaget, jadi harus tetap waspada..

Sepanjang jalan cariu-cianjur, kontur jalan yang dilalui banyak yang menanjak, menurun dan berkelok-kelok, khas perbukitan lah.. Jadi harus sering-sering memainkan handle gas dan rem dengan kontinyu.. Ketika posisi menanjak, mau ga mau kita harus gaspoll sob, kalau ga gitu mana bisa naik motornya.. Iya ga.. Sebaliknya pas di posisi jalan menurun, kita lebih banyak memainkan handle rem..

Ketika sudah melewati jalan baru cianjur ke terminal rawa bango sampai terminal pasir hayam, disinilah kita akan menemukan jalan mulus dan rata yang pannjaangg.. Hehe.. Kita bisa memainkan ritme berkendara kita, mau santai bisaaa, mau kencang mangga wae silahkan tapi resiko tanggung sendiri.. Xixi.. Mimin mah santai saja sob, nikmatin suasana.. Ngebut kok pake metik.. #eh.. Wjwjwjwj.. Setelah melewati jalanan yang menyenangkan tersebut, kita harus gaspoll lagi sampai perbatasan cianjur-sukabumi, karena jalannya menanjak dan panjang lagi.. Jalannya sih mulus sob, tapi ada sih yang jeleknya dikit.. Meski begitu kita tetap harus waspada karena jalur ini adalah jalan raya yang padat dan ramai dilewati oleh kontainer serta truk-truk besar pengangkut sembako, elektronik, garmen, dan lainnya jadi kita harus ekstra waspada kalau mau nyalip karena arah berlawanan jalannya menurun tentunya kendaraannya pasti pada kencang.. Setelah sampai di kota sukabumi, barulah kita bertemu jalan yang rata lagi dan akhirnya ketemu macet.. Haha.. Karena selama perjalanan kita lalui tanpa hambatan macet, meskipun kondisi lalin sedang ramai.. Sampai di lokasi sekitar jam 11an (lupa tepatnya), jadi kita riding sekitar 3jam dengan istirahat sekali sekitar 15menitan..

Setelah urusan di kota sukabumi selesai, perjalanan pulang tidak lewat jalur yang sama ketika berangkat, tapi ambil jalur ke arah bogor-jakarta.. Skip skip.. Setelah sampai di cibadak, sepertinya fuel indikator sudah setengahnya, mampir dulu ke pom bensin sob, isi fulltank pertalite, minta struknya kemudian bayar.. Hemmm terisi 2,51 L dengan rupiahnya sebesar Rp19.570.. Tak lupa fotoin.. Hehe..

Lanjut.. Mumpung lagi disukabumi, ada baiknya mampir ke rumah ibu dulu di daerah cigombong dan sekalian menginap saja.. Hehe.. Skip skip..

Saatnya berhitung..

KM akhir dikurangi KM awal, kemudian dibagi jumlah bensin yang diisi..

17.269 – 17.147 = 122 KM,

jumlah bensin yang diisi adalah 2,51 L, jadi…

122 : 2,51 = 48,6 KM/L

Lumayan iritlah ya sob…

Sesi kedua:

Keesokan harinya, sekitar jam6.30 otw lagi kita.. Hehe.. Kali ini lewat jalan raya sukabumi-bogor, setelah lewat ciawi belok ke arah bendungan katulampa.. Debit airnya normal sob.. Hehe.. Kemudian ke jalan baru lingkar luar bogor dan keluar di lampu merah jambu dua.. Kemudian masuk ke jalan cibinong dan belok ke arah sentul.. Alhamdulillah kondisi lalinnya ramai lancar dan masih belum padat.. Speed normal..

Setelah dari sentul kemudian melaju ke arah citeureup, gunung putri, klapanunggal dan belok ke arah bojong.. Istirahat sebentar di daerah bojong, karena badan sudah kerasa pegal sob.. Pas lihat jam, kaget juga tak terasa sudah riding selama 2jam tanpa berenti.. Wowww.. Biasanya sih maksimal 1,5jam.. Hehe.. Selesai istirahat lanjut lagi sob riding ke arah jonggol.. Kemudian mampir ke pombensin, isi fulltank pertalite lagi.. Kali ini terisi 1,754L, nilai rupiahnya sebesar Rp13.681, minta struknya dan bayar Rp14.000.. Odometer terakhirnya berada di 17.366 KM..

Saatnya berhitung..

17.366 – 17.269 = 97 KM

Bensin yang diisi sebanyak 1,754 L

97 : 1,754 = 55,3 KM/L

Wowww.. Ternyata hasilnya lebih irit lagi ya sob..

Kenapa bisa terjadi seperti itu ya.. Sepertinya di sesi pertama trek yang dilalui banyak sekali tanjakan yang membutuhkan speed tinggi dan otomatis bensin yang dibutuhkan pun lebih banyak..

Dari hasil tersebut bisa diambil rata-ratanya yaitu: jumlah total jarak tempuh dibagi jumlah total bensin yang diisi.. Cekidot..

122 + 97 = 219 KM

2,51 + 1,754 = 4,264 L

219 : 4,264 = 51,36 KM/L

So, hasilnya adalah dengan 1 Liter pertalite, bisa menempuh jarak sedekat eh sejauh 51,36 KM..

Gimana sob, irit apa boros?? Hehe..

Ok sobat, sekian dulu ya.. Terimakasih sudah mampir.. Jangan lupa baca artikel yang lainnya ya.. See you.

6 Replies to “Meski Sudah Berusia 4 Tahun, Iritnya Mio GT Tetap Terjaga… Ajiibbb”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *